Abstract

Kelapa sawit tanaman berasal dari Afrika Barat telah berkembang di Indonesia dengan pesat dan saat ini merupakan komoditas primadona penghasil devisa dari sektor pertanian. Kelapa  sawit dapat tumbuh di tanah gambut, lahan pasang surut, tanah mineral dan di tempat berawa (swamps) di sepanjang bantaran sungai dan di tempat yang basah. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk membuang air yang menggenang areal tanaman kelapa sawit dan untuk penghematan dalam penggunaan anorganik.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat teknologi drainase dan efisiensi pemanfaatan penggunaan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut, penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan petak terpisah (split splot design). Data hasil pengamatan diolah menggunakan program SAS (Statistical Analysis System). Jika hasil pengujian sidik ragam nyata pada taraf 5%, uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dan polynomial orthogonal. Perlakuan perbaikan drainase tanah (K) terdiri atas: kondisi alami (K1), Biopori (K2), parit penampungan air (parit pembuangan) (K3) dan tapak timbun (K4) sebagai petak utama. Perlakuan pemberian dosis pemupukan sebagai anak petak, terdiri atas: (D1) 25% dosis, (D2) 50% dosis (D3) 75% dosis, dan (D4) dari dosis anjuran. Perlakuan teknologi biopori memberikan hasil terbaik terhadap jumlah pelepah daun, kadar unsur hara N, P, dan K pada daun, dan efisiensi pemupukan N, P, dan K pada aplikasi dosis 100%. Interaksi perlakuan teknologi drainase tanah dan aplikasi dosis pupuk  anorganik memberikan hasil terbaik terhadap jumlah pelepah daun, kadar unsur hara N, P, dan K pada daun, dan efisiensi penggunaan pupuk N, P, dan K pada aplikasi dosis 100% .