Abstract

Di Bengkulu luas areal perkebunan kelapa sawit 304.329 Ha dengan jumlah produksi sebesar 833.410 ton. Agar pemenuhan kebutuhan bahan baku tersebut dapat terjamin kontinuitasnya maka diperlukan kemitraan antara perusahaan CPO dan perkebunan kelapa sawit.  Kelembagaan kemitraan ini bekerja dalam satu sistim manajemen rantai pasok (SCM).  Dampak positif dan negative dari perlakuan dan aktivitas perkebunan kelapa sawit juga menimbulkan dampak yang besar, terutama pada kue ekonomi yang dihasilkan. Secara umum nilai ekonomi barang dan jasa dari suatu ekosistem kelapa sawit dapat dibagi dalam bentuk Use Value dan Non Use Value. Use Value sendiri dibagi lagi menjadi tiga bagian dimana Direct use values, Indirect use values and Option Value.  Direct use values didalam pengelolaan kelapa sawit antara lain The Value Of Consumptive Uses dan Value Of Non-consumptive Uses. Dalam review artikel ini, metode pencarian data menggunakan berbagai jurnal penelitian yang telah di publish baik nasional maupun internasional dari 10 tahun terakhir yaitu 2010-2020. Perkebunan kelapa sawit memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Total Economic Value (TEV) yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit beragam dan memberikan economic value good ecosystem dan good service  oleh perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Enam (6) fungsi tersebut, 5 (lima) diberikan gratis kebun sawit untuk masyarakat dan 1 (satu) fungsi saja yaitu fungsi ekonomi yang dibayar masyarakat. Pola pendekatan produk bersih dengan pencegahan dan meminimalisasi limbah menggunakan hirarki pengelolaan melalui 1E 4R yaitu Elimination (pencegahan), Reduce (pengurangan), Reuse (penggunaan kembali), Recycle (daur ulang), Recovery/Reclaim (pungut ulang).