Abstract

Bendungan WaterVang telah berumur 81 tahun yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1941. Tujuan bendungan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan mayarakat sekitar dalam tujuan produksi pertanian. Perbaikan berkala bendungan dan saluran irigasi ini dilakukan agar dapat tetap berfungsi bagi kegiatan pertanian. Pengeringan bendungan tersebut berdampak pada kondisi masyarakat sekitar khususnya penduduk Musi Rawas dan Lubuk Linggau. Pengeringan yang saat ini terjadi bersamaan dengan pandemi covid 19 semakin memperburuk kondisi para petani. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan perekonomian dan sosial yang terjadi pada petani sawah yang berada di aliran irigasi Bendungan WaterVang. Penelitian ini dilaksankan pada bulan Maret-April 2022 dengan metode wawancara langsung ke tingkat petani sebanyak 38 responen yang diambil secara random sampling. Data yang diperoleh dianalisi unuk memberikan gambaran kondisi pertanian sebelum dan saat pengeringan saluran irigasi Bendungan  WaterVang. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 53% para petani memiliki lahan sendiri, 27 % masih menyewa dan 20 % adalah buruh tani. Saat terjadi pengeringan, sebanyak 43% lahan ditanami palawija, 44% lahan dibiarkan kosong dan 13% ditami sayuran dan hortikultura. Pengeringan tersebut memberikan dampak penurunan tingkat pendapatan para petani. Rata-rata pendapatan petani sebelum pengeringan adalah sebesar Rp 4.170.481,- dan setelah pengeringan menjadi Rp 3.005.332,- atau mengalami penurunan sebesar Rp 1.165.149 atau sebesar 28%. Sebagai alternatif memenuhi kebutuhan hidup dan keluargapara petani beralih profesi menjadi buruh dan bekerja serabutan.